| Masjid Baiturrahman Banda Aceh |
Deretan mobil mengular panjang setelah melewati papan perbatasan. Klakson-klakson bis bersahutan di tengah situasi padat merayap. Sudah satu jam lebih bus AKAP yang saya naiki tak bergerak maju. Niat hati ke luar dari rutinitas kemacetan ibukota, malah kondisi sebaliknya yang saya dapatkan. Sirine mobil polisi semakin menambah riuh suasana. Headset tua yang saya gunakan tak mempan untuk menangkis suara-suara tersebut. Tiga puluh menit setelah mobil polisi tadi lewat, bus AKAP saya mulai bergerak, perlahan. Meter demi meter dilewati hingga akhirnya diketahuilah sumber kemacetan yang terjadi, sebuah truk besar bermuatan penuh terguling di tengah jalan. Truk itu mengangkut ratusan kilogram buah atap atau yang lebih dikenal dengan kolang-kaling. Total dua setengah jam harus ditempuh untuk melewati kemacetan ini. Mungkin inilah cara Medan untuk mengingatkan saya: "Ini Medan, Bung!"