Showing posts with label Jawa Barat. Show all posts
Showing posts with label Jawa Barat. Show all posts

Tuesday, 15 November 2011

Pangandaran: Body Rafting di Green Canyon

Tiba di Terminal Cijulang pukul 9 pagi, kami mencoba mencari ojek menuju Dermaga Ciseureuh, pintu masuk Green Canyon. Tukang ojek meminta Rp10.000/orang untuk ongkosnya, kami mencoba menawar Rp5.000. Sedikit ngotot dan tidak diberi oleh tukang ojek, Pak Olog (penyedia jasa body rafting) menelpon saya dan mengatakan akan menjemput kami, yeay! Tak lama datang 3 motor yang menjemput kami menuju Green Canyon.

Perjalanan sekitar 10 menit. Kami menuju sebuah rumah di dekat pintu Green Canyon. Di rumah situ lah kantor Kisunda Adventure yang dikelola Pak Olog (contact person: 085223731415). Kami membayar Rp150.000/orang (harga diskon + harga mahasiswa + harga negosiasi, hehe). Sudah ada empat orang yang sedang berganti pakaian, dan mereka akan menjadi satu rombongan bersama kami. Setibanya di sana, kami mengganti pakaian dan mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa. Kami mengenakan life vest, sandal khusus, deker, dan helm. Untuk barang-barang penting, jangan takut kebasahan karena sudah disediakan tas antiair, jadi kamera juga bisa dibawa. Setelah selesai, kami di-briefing tentang medan yang akan dilalui dan pemanasan sedikit. Kami dipandu oleh 3 orang instruktur.

Sekitar pukul 09.30 kami naik pick-up untuk menuju starting point-nya yang lumayan jauh sekitar 5 km dari pintu masuk Green Canyon ini. Cuaca pagi ini mendung dan habis hujan, jadi bias diprediksi kalau air sungai berwarna coklat. Sekitar 20 menit perjalanan, kami turun di sebuah perkebunan yang dialiri sungai dan di sitilah kami akan memulai perjalanan, yuhu!

Mengencangkan deker dan helm, satu per satu mulai turun ke sungai yang dingin. Cuaca pagi ini masih mendung, jadi menambah seru tantangan ini. Di awal-awal menyusuri sungai masih cukup santai karena aur sungai yang cukup tenang dan belum banyak bebatuan. Sekitar setengah jam mengalir, kami istirahat sejenak dan foto-foto di sebuah goa yang cukup lebar dan dipenuhi kelelawar. Perjalanan masih 3 hingga 4 jam lagi, jadi kami hanya 15 menit di goa ini dan melanjutkan.


Foto-foto di depan goa

Dan etape kedua ini cukup menantang, batu-batu besar dan arus-arus deras mulai sering ditemui. Untuk melewatinya membutuhkan waktu yang lama karena harus satu per satu. Dibutuhkan pula bantuan tali untuk meloloskan kami melewati arus deras. Beruntung pemandu kami sudah berpengalaman, jadi cukup mengetahui medan dan bagian mana yang harus kami lalui.

Batu-batu besar

Beberapa kali kami perlu melewati darat (bantaran sungai) karena batu yang menghalangi sangat besar atau meloncati batu-batu besar. Bahkan ada kalanya kami harus melewati dengan berpegangan tali atau yang paling deg-degan melompat bebas ke arus deras. Sempat beberapa dari kami terbawa arus, jadi pemandu kami harus bekerja ekstra keras untuk membantu kami. Sekitar 2 jam mengikuti kondisi sungai yang bervariasi, kami istirahat di atas batu besar. Pemandu kami menyalakan api dari spiritus untuk memasak air, jadi bisa membuat kopi. Kami juga memakan makanan ringan bawaan kami. Cukup lama kami istirahat, sekitar 40 menit.

Terjun bebas ke atus deras

Kemudian kami melanjutkan dan langsung diawali dengan melompat ke arus deras, waduh. Tapi inilah yang namanya tantangan, meloncat lah kami satu per satu. Lanjut mengikuti arus. Setengah jam perjalanan, terlihatlah hujan abadi dan kami sudah memasuki area Green Canyon. Tapi, rintangan malah yang tersulit karena arus sangat deras dan tidak dimungkinkan untuk melewati sungai, kami diarahkan melewati batu besar yang di beberapa bagian cukup licin. Dibutuhkan kehati-hatian dan kewaspadaan yang tinggi di sini.

Setelah cukup memakan waktu lama, akhirnya kami bertujuh mampu melewatinya dan saatnya foto-foto, yuhu (sayang kamera yang dipakai adalah milik rombongan yang satu, jadi tidak bisa diperlihatkan). Setelah cukup puas, kami kemudian masuk lagi ke sungai. Kemudian ada Batu Payung (karena berbentuk payung) yang bisa untuk melompat. Kami pun melompat dari situ. Lanjut lagi menuju Green Canyon, di sana banyak pengunjung dan perahu-perahu yang masuk dari pintu utama Green Canyon.

Perjalanan menuju pintu masuk Green Canyon

Kami kemudian naik perahu menuju pintu masuk. Petualangan selama 5 jam akhirnya selesai juga. Dan ini adalah pengalaman yang sangaaaaat berharga dan menantang, hehe. Kami kemudian kembali menuju ke kantor utnuk mandi, ganti pakaian, dan makan siang karena paket body rafting sudah include makan siang prasmanan. Inilah liburan yang sesungguhnya dan sangat menantang, silakan dicoba!

Nih contact-nya (sebagai bentuk apresiasi, bukan berbayar)

Friday, 28 October 2011

Pangandaran: Lika-liku Angkutan Pedesaan Pangandaran-Cijulang


"Salah satu hal unik yang saya bawa pulang dari perjalanan di Pangandaran ini adalah angkutan pedesaannya (angdes)"

Setelah menyelesaikan malam di Pangandaran rencana kami kali ini adalah menuju Green Canyon untuk body rafting. Kami bangun cukup pagi, sekitar pukul 6, langsung salat, mandi, dan packing. Kami dijadwalkan harus sudah tiba di Green Canyon pukul 9 pagi dan rencana kami menuju Green Canyon adalah dengan angdes dari Terminal Wisata Pangandaran.

Pintu keluar Pangandaran

Pagi ini gerimis turun dan suasana pantai pun terasa dingin. Kami sarapan dulu bubur ayam di penginapan sebeah, lumayan menghangatkan. Setellah itu langsung menuju terminal dengan jalan kaki, padahal kami tidak tahu berapa jaraknya. Selesai berjalan menuju utara, tepat pukul 07.50 kami tiba di terminal dan langsung kami cari angdes berwarna kuning jurusan Pangandaran - Cijulang. Cijulang adalah terminal yang dekat dengan Green Canyon.

Kamu masuk ke angdes yang sudah bersiap untuk jalan. Di dalam masih kosong, jadi kami adalah penumpang pertama. Bang supir datang dan menyapa. Kami mengobrol sedikit, menanyakan ongkos menuju Cijulang yang kata bang supir Rp10.000. Lumayan ya, tapi cukup menghemat ongkos dibanding harus sewa atau naik ojek. Angdes berjalan tepat pukul 08.00. Tetapi tak jauh, angdes kembali berhenti di dekat pasar. Kata si abang sudah dijadwalkan kapan angdes harus jalan. Angdes bakal ngetem hingga pukul 08.10 di depan pasar ini.

Angdes cukup penuh dan pukul 08.10 kembali berjalan meninggalkan pasar. Pemandangan Perjalanan Pangandaran - Cijulang cukup bervariasi, mulai dari pohon-pohon, sungai, rumah-rumah, hingga lapangan luas. Daaaan tepat pukul 09.00 angdes tiba di Termina Cijulang, juga kata si abang supir emang udah dijadwalkan perjalanan rute ini memakan waktu 1 jam. Akhirnya tiba juga kami di Terminal Cijulang.

(berlanjut ke Pangandaran: Body Rafting di Green Canyon)

--------------------------------------------------------------------------------------------------

Nah pulang kembali menuju Terminal Pangandaran, kami kembali naik angdes dari Terminal Cijulang. Kami naik ojek menuju terminal. Tiba di Terminal Cijulang, ada satu angdes di sana daaaaan ternyata pengemudinya sama dengan yang tadi, hahaha, unik sekali. Lagi-lagi kami menjadi penumpang pertama. Kata si abang ini adalah angdes terakhir menuju Pangandaran, beruntung kami tidak telat.

Tepat pukul 4 sore, angdes melaju menuju Pangandaran. Selama perjalanan, angdes berhenti di beberapa tempat untuk meaikkan penumpang. Si abang juga terus teriak-teriak angdes terakhir agar angdesnya penuh. Hingga di suatu kondisi angdes ini sudah penuh, semua tempat duduk sudah terisi, tetapi ada sekitar 10 anak sekolah yang memberhentikan, pikir saya pasti tidak ditolak sama si abang. Ternyataaaa, mereka naik dan duduk di atas, iya di atas angdes ini, waduh. Angdes jadi sangat penuh dan berjalan cukup lambat.

Perjalanan kembali diteruskan dan lagi-lagi diberhentikan oleh calon penumpang, si abang pun kembali memasukkannya, pokoknya dihimpit-himpit agar semua bisa masuk. Saya yang cukup lelah dan ngantuk jadi cukup waspada dan terbangun karena sumpek. Karena tidak ada kerjaan, saya menghitung total penumpang di angdes ini. Hitung punya hitung toal seluruh penumpang dan supir adalah 29 orang!!!!!! Formasinya gini: 3 orang duduk di depan, 12 orang duduk di angdes, 2 orang jongkok, 3 orang bergelantungan di beakang, dan 9 orang di atas, HEBAT YA!!!

Rute Cijulang (kiri) menuju Pangandaran

Angdes pun tiba di Terminal Pangandaran pukul 6 sore, lumayan alias capek perjalanan selama 2 jam dengan oksigen yang berebutan. Namun, inilah lika-liku angkutan pedesaan Pangandaran! Silakan dicoba :)

Pangandaran: Melepas Senja di Selatan Jawa

Selesai menunaikan Salat Jumat, makan mie ayam, dan istirahat, kami melanjutkan lagi refreshing kami. Kali ini tujuannya adalah ke Pantai Timur Pangandaran. Sekitar jam 4 kurang kami meninggalkan penginapan menyusuri Jalan Pramuka untuk mencapai Pantai Timur Pangandaran. Suasana sore hari di sini cukup sepi mungkin karena ini adalah hari Jumat jadi para pelancong belum datang.

Tak sampai 10 menit menuju ke timur, kami tiba di Pasar Ikan. Waduh lumayan pengen makan seafood juga apalagi ini kan langsung di pusatnya. Tapi dompet berkata lain, kami hanya melewati jejeran warung-warung di pasar ini dan menghampiri Pantai Timur. Angin kencang menyambut kami. Tidak ada pepohonan yang melindungi sehingga angin langsung menerpa apapun yang ada di sepanjang Pantai Timur ini.

Pantai Timur Pangandaran (di kejauhan terlihat Cagar Alam)

Kondisi Pantai Timur cukup berbeda jauh dengan Pantai Barat karena di Pantai Timur ini pantainya tidak untuk rekreasi dan cukup curam sepertinya. Juga Pantai Timur ini lebih gersang dan lebih sepi. Pantai Timur cocok untuk melihat sunrise. Tapi kami malah ke sini di sore hari, hahaha.

Aktivitas warga di Pantai Timur

Nelayan sedang melautkan perahunya

Karena tak ada yang dapat dilakukan, selanjutnya kami menuju ke arah barat lagi, ke Pasar Wisata Pangandaran di Jalan Bulak Laut. Intinya jalan-jalan sore kami ini untuk mengisi waktu hingga malam kemudian tidur, hehe. Sesampainya di Pasar Wisata yang lumayan ramai oleh pedagang, kami hanya melewatinya saja karena kami memang tidak tertarik, hehe. Kami hanya membeli es krim untuk dinikmat sepanjang jalan. Kemudian melanjutkan berjalan ke Pantai Barat, ceritanya untuk mengejar sunset.
Note: di Pangandaran cukup sulit menemukan ATM, setelah diberitahu seorang satpam, ada ATM BNI di salah satu hotel (Nyiur Indah kalau tidak salah), karena saya tidak memiliki rekening BNI, maka akan di-charge Rp5.000 setiap pengambilan. Jadi sediakan cash yang cukup jika berkunjung ke Pangandaran
Tiba di Pantai Barat, awan sangat tebal, bahkan dikejauhan terlihat hujan turun. Tetapi kondisi ini lebih ramai, ada rombongan yang sedang foto-foto, ada yang lari sore bersama anjing, ada sekeluarga dari Prancis sepertinya, cukup ramai lah Pantai Barat sini. Karena acara liat sunset batal, kami juga foto-foto saja merasakan pantai yang luas ini milik kami dan beberapa orang di sini, serta bermain pasir. Kami melepas senja tanpa melihat senja.


Pantai Barat Pangandaran yang luas

Pangandaran: Mengelilingi Cagar Alam Pananjung

Setibanya di terminal, kami langsung turun dan disambut tukang ojek dan tukang becak. Kami menolak dengan ramah dan melanjutkan berjalan menuju pintu masuk objek wisata Pangandaran. Kami membayar per orang Rp2.500 (per Juli 2011). Sebenarnya bisa saja Anda tidak membayar karena petugas tidak begitu peduli dengan pejalan kaki, tetapi karena kami ingin membantu melestarikan objek wisata ini, kami membayar. Namun, sayang sekali ketika kami meminta karcis masuk, petugas berkata habis. Sedikit kecewa karena kami sudah membayar dengan inisiatif kami tetapi petugas tidak mengapresiasi dengan baik.

Menyusuri Pantai Barat Pangandaran

Kami meneruskan berjalan menuju Pantai Barat. Bukan berarti kami tidak ingin melihat sunrise di Pantai Timur, tetapi kondisi saat itu mendung dan jam sudah menunjukkan pukul 6 lebih, jadi percuma saja, haha. Pantai Barat Pangandaran pagi hari cukup sepi manusia, hanya terdengar debur ombak yang lumayan besar, ciri khas pantai di selatan Pulau Jawa.

Tujuan pertama kami adalah mencari penginapan untuk menyimpan tas yang membebani punggung ini. Kami menyusuri Pantai Barat ini hingga menuju Cagar Alam Pananjung (disebut juga Cagar Alam Pangandaran) di arah selatan. Angin berhembus cukup kencang, langit masih gelap, dan aktivitas nelayan terlihat di kejauhan. Di sepanjang bibir pantai, ditanggalkan perahu-perahu dengan namanya masing-masing. Kami berjalan menuju Jalan Pramuka dan Jalan Kalen Buaya yang kira-kira titik tengah antara terminal dan cagar alam.

Kemudian kami mulai mencari penginapan yang masuk budget kami, Rp50.000/orang/malam. Setelah bertanya ke beberapa tempat, kami memilih Hotel Mutiara (kalau tidak salah) di persimpangan Jalan Kalen Buaya dan Jalan Pramuka. Biayanya masuk budget kami dengan fasilitas dua tempat tidur, satu galon air mineral mini dengan dispenser air panas dan air dingin, kipas angin, dan televisi. Kami langsung membayarnya dan meletakkan tas. Tampaknya hanya kami yang menginap di situ, tapi ini bukan masalah.

Selesai meletakkan tas dan packing untuk menjelajah cagar alam, kami kembali menuju Pantai Barat untuk mencari sarapan\. Tak jauh dari pintu masuk cagar alam, kami makan di sebuah warung. Haris memilih bubur ayam, Ade dan saya memilih ketupat sayur. Sembari menunggu pesanan selesai dibuat, seorang Bapak menawarkan kami jasa perahunya untuk berkeliling cagar alam. Dia menjelaskan rutenya dan menunjukkan foto-foto di album yang ia bawa. Penawarannya terus berlanjut hingga sarapan kami datang. Si Bapak menawarkan Rp225.000 untuk kami bertiga termasuk perahu, jaket pelampung, peralatan snorkeling, tiket masuk cagar alam, dan guide.

Hm, tidak terlalu mahal dalam benak saya. Selesai makan, kami membayar dan permisi sebentar untuk saling berbicara apakah setuju dengan penawaran si Bapak atau tidak. Setelah ngomong-ngomong sebentar biaya sebesar itu tak mahal. Akhirnya kami setuju dengan penawaran si Bapak termasuk biaya Rp225.000/perahu. Jadilah rencana awal kami yang hanya menuju cagar alam menjadi mengelilinginya dengan perahu. Uyeah!

Satu kesalahan yang saya buat pada saat itu adalah saya mengenakan sepatu. Cukup meresahkan apabila basah karena satu-satunya yang saya bawa. So, ke depannya kenakanlah sandal. Selesai menyiapkan perahu, si Bapak nelayan sudah mendorong perahunya menuju air. Kami pun naik ke perahu, Haris duduk paing depan, disusul saya, Ade dan si Bapak. Perjalan menuju Samudera Hindia dimulai.

Perahu-perahu bersandar

Yang pertama dalam benak saya adalah ombak besar pagi hari dan langit yang gelap, agak mencekam. Dan memang ombak saat kami ke sana kata si Bapak lebih dari biasanya, sangat tinggi. Si Haris yang berada di depan melambung cukup tinggi setelah perahu berhasil melewati ombak. Hal inilah yang membuat kami pusing di awal-awal perjalanan. Ombak semakin membesar setelah kami melewati Pantai Pasir Putih, menuju lautan lepas. Luar biasa bahayanya. Walaupun ini kali kedua saya menyeberang dengan perahu kecil (yang pertama ketika menyeberang di Pulau Condong), tetapi kali ini ombak di pantai selatan ini tak main-main.

Bentang alam Cagar Alam Pangandaran dari arah selatan

Perahu lain yang mengelilingi cagar alam

Si Bapak melanjutkan mengarahkan mesin perahunya mengelilingi cagar alam. Terlihat beberapa perahu di sekitar karang, kata si Bapak, karang menjadi tempat favorit nelayan karena banyak ikan berkumpul. Di depan kami terlihat beberapa perahu nelayan menuju lautan lepas untuk mencari ikan. Perahu mulai mengarah ke timur mengikuti bentuk cagar alam ini. Nah di sisi selatan cagar alam tebing-tebing batu terlihat keras dan kokoh berbaur dengan kerimbunan pepohonan cagar alam.

Batu Layar

Si Bapak juga menjelaskan nama-nama tempat yang unik, misalkan Batu Candi, Batu Layar, atau Batu Mandi. Terdapat pula gua raksasa yang terlihat banyak kelelawar di dalamnya. Si Bapak menunjukkan pula Air Terjun Pananjung yang saat itu sedang kering. Katanya air terjun itu bisa dicapai dengan berjalan kaki menyusuri cagar alam selama 3-4 jam, hadeh, lumayan banget capenya.

Setengah jam setelah lepas landas dari Pantai Barat, kami sudah tiba di area Pantai Timur. Dari tempat kami berlayar, terlihat Nusa Kambangan nun juah di seberang. Untuk mencapai Nusa Kambangan bisa juga dengan feri khusus dan biaya yang juga "khusus". Akhirnya setelah elalui batu layar, kami tiba di Pantai Pasir Putih di sebelah timur cagar alam. Di sebelah sini kondisinya lebih sepi daripada pantai pasir putih di sebelah barat. Di pantai ini kami disambut puluhan monyet yang hidup bebas, haha, lucunya mereka. Tak lupa kami mengambil beberapa foto untuk kenang-kenangan.

Aktivitas nelayan di Pangandaran

Pantai Pasir Putih di timur Cagar Alam Pangandaran

Next, kami memasuki area Cagar Alam Pangandaran. Selain ada ratusan atau bahkan ribuan monyet, ada juga beberapa gua-gua. Kami masuk ke salah satu gua, tapi karena saya kurang tertarik ya sudah tak dapat bercerita panjang lebar.
note: Anda akan disewakan (bukan menyewa) senter dengan biaya Rp5.000/senter karena memang kondisi gua sangat gelap dan di akhir gua Anda akan dimintai sumbangan sukarela untuk kebersihan
Setelah selesai masuk, kami menuju Pantai Barat lagi untuk snorkeling. Sebelumnya kami mampir sebentar ke Goa Jepang, duh Jepang kok selalu bikin goa di tempat wisata ya? Tapi Goa Jepang yang di sini tidak terurus dan ditumbuhi semak-semak. Lanjut, snorkeling time!

Kami naik perahu lagi untuk menuju Pantai Pasir Putih di Pantai Barat untuk mengambil alat snorkeling-nya. Ga sabaran banget nih soalnya belum pernah (padahal udah 19 tahun hidup di negeri kepulauan ini #curcol). Setelah perahu diarahkan di tempat yang oke kata Si Bapak menerjunlah Haris terlebih dahulu baru saya dan Ade. Mencoba berlatih sendiri dahulu karena snorkeling butuh sedikit keahlian dan tak lama akhirnya saya bisa, hahahuhuhihi!

Pantai Pasir Putih bagian barat Cagar Alam Pangandaran

Snorkeling time! (for the first time)

Berenang ke sana kemari melihat keindahan bawah laut Pangandaran. Memang tidak seindah Bunaken atau Derawan atau Wakatobi, tapi sudah cukup buat saya melongok ke dasar laut ini. Dan karena ternyata saya merasakan nikmatnya snorkeling, mulailah berhasrat untuk ke pantai-pantai indah lainnya. Sekitar hampir satu jam mengarah ke segala arah, kami merapat ke pantai. Ada perasaan senang sekali karena ini merupakan pengalaman pertama snorkeling dan langsung di Samudera Hindia :)

Tiba di pantai barat, membayar dan segera ganti baju untuk SALAT JUMAAAAT!

++++++++

sebelumnya: Menyusuri Diagonal Jawa Barat dengan Bus Budiman

Tuesday, 16 August 2011

Pangandaran: Menyusuri Diagonal Jawa Barat dengan Bus Budiman

sumber: bismania.com

Bus Budiman ekonomi ini akan menempuh perjalanan panjang selama kurang lebih sepuluh jam. Waw, kalo buat belajar bisa buat belajar materi setengah semester, haha. Bus tidak melewati UI, tetapi keluar terminal mengarah ke Jalan Ir. H. Djuanda kemudian ke Bogor Raya. Di beberapa titik bus berhenti untuk menaikkan penumpang.

Pukul 21.00 bus berhenti cukup lama untuk menaikkan penumpang di sebuah agen. Beberapa penumpang naik, jadi setengah bus terisi, lumayan daripada sepi kan nggak enak. Pukul 21.15 bus belum juga berjalan. Selidik punya selidik ternyata ban belakang bus sebelah kiri sedang diganti. Waduh lumayan nih, lumayan panas, lumayan lama, lumayan nggak sampe-sampe. Setelah ditunggu setengah jam akhirnya penggantian ban selesai dan bus kembali melaju.

Karena sudah malam dan kami memang sengaja memilih perjalanan malam, rasa ngantuk cukup mendera. Setelah membayar per orang Rp50.000 (per Juli 2011), saya tertidur. Dan bangun-bangun, bus baru sampai di Bekasi. Perjalanan masih sangat panjang. Kalau dilihat di peta, kami memulai dari Kota Depok yang berada di ujung kiri atas (barat laut) Jawa Barat dan Pangandaran yang masuk Kabupaten Ciamis dan berbatasan dengan Jawa Tengah terletak di ujung kanan bawah (tenggara) Jawa Barat dan inilah yang disebut menyusuri diagonal Jawa Barat. Tak heran perjalanan delapan hingga sepuluh jam harus ditempuh.

Malam itu jalan tol cukup ramai. Saya terjaga hingga bus memasuki Gerbang Tol Cipularang. Lumayan, (mungkin) sudah 40 persen perjalanan ditempuh. Bus terus melaju menembus gelap dengan ditemani pantulan cahaya matahari oleh bulan a.k.a sinar bulan. Keluar dari tol kira-kira pukul 01.00, bus kembali merapat untuk menaikkan beberapa penumpang.

Awalnya dengan bus nn-AC ini saya akan merasa kepanasan, tetapi ternyata yang saya takutkan tidak terbukti, malah saya merasa kedinginan (lebay). Tapi benar, angin malam membuat sejuk suasana di dalam bus, bahkan membuat saya harus mengenakan jaket karena saya sangat sensitif dengan dingin, hehe.

Saya melanjutakan tidur-tiduran saya. Sesekali saya terbangun mendengar decit rem dan klakson bus. Decit rem terdengar jika kendaraan di depan berjalan lamban atau jalanan menurun, sedangkan klakson terdengar jika bus berpapasan dengan bus Budiman yang lain. Daaaan Budiman memang bisa dibilang penguasa jalan darat di selatan Jawa Barat. Sering kali bus berpapasan dengan bus Budiman lainnya.

Sekitar pukul 02.30 bus berhenti di sebuah rumah makan besar yang menjadi check point atau tempat istirahat bus-bus Budiman (saya lupa nama rumah makannya, kalau tidak salah Sari rasa di daerah Nagrek). Ketika kami tiba sudah ada sekitar tiga bus yang sudah berhenti di tempat parkir. Ada yang dari Jakarta tujuan Tasikmalaya, Ciamis, ada yang menuju Bekasi. Dan dua di antaranya adalah bus yang ber-AC. Entah mengapa saya merasa iri dengan fasilitas dan kenyamanannya, tetapi saya merasa beruntung karena tidak tersiksa dengan AC yang bisa dibilang sangat dingin (dilihat dari kaca yang berembun di semua sudut).

Jadi apabila Anda menaiki bus Budiman yang biasa (non-AC), Anda akan mendapatkan AC alami dari alam dan asap rokok dengan seat 2-3. Sedangkan jika Anda menggunakan jasa bus yang ber-AC, Anda akan mendapatkan bantal, AC tentunya, dan hiburan berupa tv, seru ya. Sayang saya tidak menanyakan berapa biayanya (denger-denger sekitar Rp60.000). Oiya selain mengantarkan penumpang, Budiman juga menyediakan jasa mengantarkan barang (bukan promosi lho, hanya informasi).

Bus kami kembali melanjutkan perjalanan, mendahului tiga bus yang masih berhenti. Jalanan lengang dan gelap, dan bus kami melaju kencang. Saya masih terjaga dengan mata yang buka tutup. Ada cerita cukup unik, di sebuah warung, si kenek turun untuk beli minum, lumayan lama lima menit lebih. Eh pak supir tidur, bahaya banget nih. Dan ketika si kenek sudah naik dan membawa minuman untuk pak supir, pak supir masih saja tidur. Gawat nih kalo si bapak supir ngantuk gimana, nyawaku padamu pak. Si kenek membangunkan pak supir masih belum bangun, akhirnya bapak-bapak yang di belakang pak supir yang membangunkan dengan menepuk pak supir dengan cukup keras, haha. Si kenek kemudian memberi seplastik kopi panas. Jreng! Seakan matanya terbuka kembali dan memacu bus dengan kencang, haha.

Cukup was-was saya sejak itu, tetapi saya tidur saja, haha. Sesekali saya terbangun saat bus berhenti menurunkan penumpang seperti di Banjar, Banjarsari, dan Ciamis. Sekitar pukul setengah lama saya terbangun, melihat ke kiri dan kanan masih gelap, kemudian saya tayamum dan Salat Subuh. Bus masih melaju selesai saya salat, sudah sembilan jam bus berjalan tetapi kami belum tiba juga.

Sekitar pukul setengah enam, papan petunjuk jalan sudah terlihat arah menuju Pangandaran. Berarti tidak jauh lagi kami sampai Pangandaran. Dan benar, tepat pukul enam bus tiba di Terminal Pangandaran yang cukup sepi. Bulat sepuluh jam (dari jam 8 malam hingga jam 6 pagi) perjalanan telah kami tempuh, badan sudah pegal-pegal dan kaku-kaku, kini saatnya menikmati alam Pangandaran. Terima kasih bus Budiman yang telah mengantarkan kami menyusuri diagonal Jawa Barat.

peta dari Depok menuju Pangandaran

Persiapan ke Pangandaran dan Green Canyon

Kamis lalu, tepatnya tanggal 21 Juli 2011, saya dan dua teman saya akhirnya (setelah ditunda satu minggu) jadi pergi juga ke Pangandaran. Rencana awalnya ada lima orang yang berangkat, tetapi dua rekan saya memutuskan untuk tidak ikut. Jadilah kami bertiga lanjut tanpa ragu-ragu ke pantai indah di ujung selatan Jawa Barat ini.

Kami bertiga, saya, Ade, dan Haris, memutuskan pergi malam hari dari Terminal Depok. Sebenarnya ada dua opsi, berangkat dari Terminal Depok dengan bus Budiman tujuan Depok – Pangandaran atau dari Terminal Kampung Rambutan dengan bus Perkasa Jaya tujuan Kampung Rambutan – Pangandaran. Setelah ditimbang-timbang waktu tempuh menuju terminal, kami memutuskan naik bus Budiman dari Terminal Depok saja.

Selesai kuliah jam 5, saya langsung ke kamar kos. Mengganti isi ransel saya yang sebelumnya buku pelajaran dengan pakaian, alat mandi, kamera, minuman, makanan, dll. Oiya berdasarkan pengalaman saya kali ini membawa steker T agar kami bisa sekalian untuk men-charge hape atau kamera. Selesai packing, saya makan dulu dan salat Maghrib gabung Isya. Kemudian menuju halte bis kuning bertemu Haris.

Saya dan Haris berangkat dari UI, sedangkan Ade sudah menunggu di Terminal Depok karena sebelumnya ada kegiatan kampus di sana. Kami berdua naik angkot dari depan Gramedia Margonda menuju terminal. Sampai terminal pukul 19.15, bus Budiman sudah terparkir di sana. Awalnya saya kira busnya yang ber-AC, tapi ternyata tidak. Kata Ade, bus yang ber-AC sedang rusak. Hm, ada positif dan negatifnya, positifnya lebih hemat dan negatifnya kurang nyaman. Pukul 20.10, bus berjalan keluar terminal, mulai menapaki protokol Kota Depok.

Yeay, perjalanan panjang dimulai. Berdoa dulu, semoga selamat sampai tujuan.

Tuesday, 28 June 2011

Festival Layang-Layang Pangandaran 2011

Siapkan waktu Anda tanggal 16-17 Juli 2011 untuk berkunjung ke Pangandaran. Selain menikmati panorama indah lanskap alamnya, Anda juga akan disuguhi pagelaran Pangandaran International Kite Festival 2011. Di sini telah menunggu langit biru yang indah bersama ratusan layang-layang hias modern dan tradisional mengudara di cakrawala.

Festival Layang-Layang Pangandaran 2011 akan bertempat di Lapangan Ketapang Doyong Pantai Timur Pangandaran. Festival Layang-Layang Pangandaran juga akan diisi acara pameran, eksibisi, dan pertujukan kesenian tradisional Jawa Barat.

Sejumlah peserta dari dalam negeri maupun dari luar negeri akan hadir dalam event tahunan ini. Pesertanya tahun 2011 mengalami peningkatan jumlah peserta. Ada 12 negara yang sudah mengkonfirmasi ikut serta yaitu dari Asia, Eropa, dan Amerika. Total jumlah peserta sebanyak 250 orang meliputi 50 peserta dari luar negeri dan 200 peserta asal Indonesia yang datang dari 13 provinsi.

Peserta yang hadir dari luar negeri adalah orang yang benar-benar hobi layang-layang, bukan sekadar turis yang kebetulan datang berwisata ke Pangandaran. Kategori lomba adalah kompetisi Kategori 2D, 3D, Rokaku, Train, Sport, Tradisional, Tanpa Rangka (Balon), dan kategori lainnya termasuk adu layang-layang.

Tujuan festival layang-layang ini adalah untuk mempromosikan wisata pantai Pangandaran sebagai destinasi wisata unggulan Jawa Barat. Pangandaran pun telah dijadikan ikon nasional sebagai daerah strategi pengembangan wisata dengan harapan semakin merangsang kunjungan wisatawan, terutama mancanegara.

Pangandaran merupakan primadona destinasi wisata pantai di Jawa Barat. Lokasinya terletak di Desa Pananjung Kecamatan Pangandaran, berjarak sekitar 92 km arah selatan kota Ciamis. Di pantai ini Anda dapat menyaksikan terbit dan tenggelamnya matahari dari satu tempat yang sama. Pantainya memiliki air yang jernih dengan jarak antara pasang dan surut relatif lama sehingga memungkinkan Anda berenang dengan aman didukung tim penyelamat wisata pantai. Ada juga hamparan pantai pasir putih dengan taman laut dengan fauna yang memesona.

Sekadar berjalan-jalan pun sudah cukup menyenangkan karena jalannya beraspal mulus dan penerangannya memadai di malam hari. Tempat wisata Pangandara memiliki beragam fasilitas penunjang meliputi hotel melati hingga bintang 5 dengan harga bervariasi, restoran, penginapan, dan pondok wisata dengan tarif bervariasi. Tersedia pula bumi perkemahan, sepeda dan ban renang sewaan, parasailing dan jetski, bioskop, diskotik, pramuwisata, serta Pusat Informasi Pariwisata. Anda yang dari Bandung dan Jakarta telah tersedia transportasi udara dengan Susi Air di Bandara Nusawiru Cijulang.


Informasi lebih lanjut:
Dinas Pariwisata Jawa Barat
Jl . RE Martadinata No. 209 Bandung
Jawa Barat

www.disparbud.jabarprov.go.id
www.mypangandaran.com

Sumber:
indonesia.travel

Wednesday, 30 March 2011

Menyambangi Istana Bogor

Awal Juni lalu di tahun 2010, saya mendapat kesempatan mengunjungi Istana Bogor. Selama ini saya hanya bisa memandang istana ini dari luar pagar atau dari Kebun Raya Bogor. Ada waktu khusus bagi masyarakat umum untuk bisa masuk ke dalam gedung istananya, yakni ketika HUT Kota Bogor yang jatuh di bulan Juni . Waktu kunjungan ke istana ini disebut Istana Bogor Open. Beruntung sedang musim libur, saya dan teman saya berencana mengunjungi Istana Bogor pada kesempatan di tahun ini.

Untuk bisa masuk ke istana, masyarakat umum harus mendaftarkan diri terlebih dahulu di Kantor DPRD Kota Bogor. Letaknya di belakang Balaikota Bogor, di Jalan Kapten Muslihat tak jauh dari Stasiun Bogor. Saat pendaftaran ini yang dibuka selama empat hari, kami menunjukkan tanda pengenal, menyebutkan jumlah peserta, dan memilih hari dan jam kunjungan kami. Tak sepeser rupaih kami keluarkan untuk massuk ke istana. Waktu kunjungan ke Istana Bogor diadakan selama empat hari di hari kerja. Setelah menyelesaikan kelengkapan yang dibutuhkan, kami diberikan sebuah surat untuk kemudian ditukarkan di hari kunjungan kami. Kami kembali ke Jakarta dengan kereta dan siap lagi ke Bogor seminggu lagi.

Seminggu kemudian

Akhirnya kesempatan kami untuk masuk di salah satu istana kepresidenan Indonesia ini tiba. Kami tiba di Kantor DPRD Kota Bogor pukul 12 siang dan jadwal kunjungan kami pukul 1 siang. Kami mengenakan pakaian yang sesuai, mengenakan sepatu dan tidak mengenakan celana jeans. Kemudian kami menyerahkan kertas bukti pendaftaran kami kepada petugas, menunjukkan tanda pengenal, menyebutkan jumlah rombongan yang datang, dan punggung tangan kami dicap. Akhirnya kami dipersilakan berbaris untuk beriringan masuk ke Istana Bogor.

Memasuki gerbang samping istana, kembali ada pemeriksaan. Alat komunikasi diperbolehkan masuk dan tidak perlu dimatikan. Berbeda dengan Istana Negara yang sangat ketat karena di Istana Bogor ini sehari-harinya tidak digunakan pejabat negara. Masuk ke lingkungan istana, pertama-tama kami diarahkan menuju ruang pameran yang berisi foto-foto istana, sejarah istana, Kebun Raya Bogor, dan lain-lain. Ruang bercat putih bersih ini cukup nyaman walaupun sangat kecil jika dibandingkan dengan rombongan 400 orang yang masuk.

Ruang Pameran

Setelah selesai berputar-putar singkat di ruang pameran, kami ke luar dan menuju gerbang berikutnya. Kami harus mengantre lagi karena ada pemeriksaan lagi sebelum masuk kebagunan Istana Bogor. Setelah melewati pemeriksaan, akhirnya kami masuk bangunan istana dan disambut sebuah patung wanita yang unik.

Patung yang menyambut pengunjung

Pintu menuju bagian dalam Istana Bogor

Antusias pengunjung Istana Bogor

Kami memasuki dalam istana. Terdapat banyak benda unik dan juga meja kursi di dalam ruangan. Ada sebuah ruangan yang ditutup rapat dan dijaga. Sayang tidak bisa mengambil gambar di dalam istana, jadi tidak bisa di-share. Kemudian kami ke luar ke halaman belakang istana yang banyak dipadati banyak pengunjung. Berputar sejenak, ada ruangan terpisah yang belum kami lewati, kami ke ruangan itu dan melihat-lihat bagian dalam yang tak jauh berbeda. Kemudian kami ke luar lagi dari sisi yang lain dan menemukan sebuah gerbang yang terkunci yang menuju halaman depan istana. Setelah mencari tahu, ternyata kami diperbolehkan masuk dengan syarat membayar Rp25.000 sekaligus mendapat jatah satu kali foto. Tak apalah kapan lagi kami ke sini. Setelah membayar, kami diperbolehkan masuk.

Istana Bogor

Ya di halaman depan ini lah yang dipenuhi rusa-rusa khas Istana Bogor. Halaman depan ini sangat luas dengan hiasan pohon-pohon tegar yang rimbun dan kolam-kolam berteratai. Dan ini lah kesempatan terbaik untuk foto-foto! Di segala sisi disambangi untuk mengabadikan momen yang agak langka ini. Sebuah kelebihan di Istana Bogor ini adalah ada banyak patung wanita tak berbusana di lingkungan istana. Tak kurang tiga puluh menit kami bermain-main di dalam istana. Kemudian kami ke luar melalui pintu belakang yang menuju Kebun Raya Bogor dan kembali ke Jakarta. Yeay, sebuah pengalaman langka dan perjalanan yang menyenangkan.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...