Friday, 18 November 2011

Pemenang ITTA 2011/2012

All Winner
Indonesia Travel Tourism Awards 2011/2012
Awarding The Best, Inspiring The Rest


Indonesia Leading Luxury Hotel: The Ritz-Carlton Jakarta, Pacific Place

Indonesia Leading Local Hotel Chain: Dafam Hotels and Resorts

Indonesia Leading Global Hotel Chain: Swiss-Belhotel International

Indonesia Leading Green Hotel: The Sultan Hotel Jakarta

Indonesia Hotel of the Year: JW Marriott Hotel Jakarta

Indonesia Leading MICE Venue/Hotel: Bali International Convention Centre

Indonesia Leading City Hotel - Medan: JW Marriott Hotel Medan

Indonesia Leading Business Hotel: JW Marriott Hotel Jakarta

Indonesia Leading Boutique Hotel: Bali Niksoma Boutique Beach Resort

Indonesia Leading City Hotel - Yogyakarta: Melia Purosani Yogyakarta

Indonesia Leading City Hotel - Bandung: The Papandayan Hotel

Indonesia Leading City Hotel - Semarang: Hotel Ciputra Semarang

Indonesia Leading City Hotel - Surabaya: Sheraton Surabaya Hotel and Towers

Indonesia Leading City Hotel - Jakarta: HARRIS Hotel & Conventions Kelapa Gading

Indonesia Leading City Hotel: The Ritz-Carlton Jakarta

Indonesia Leading Airport Hotel: Sheraton Mustika Yogyakarta Resort & Spa

Indonesia Leading Spa Resort: The Villas Bali Hotel & Spa

Indonesia Leading Luxury Resort: The ST. Regis Bali Resort

Indonesia Leading Thematic Resort: Furama Villas and Spa, Ubud - Bali

Indonesia Leading Family Resort: Bali Dynasty Resort

Indonesia Leading Beach Resort: Discovery Kartika Plaza Hotel & Villas, Bali

Indonesia Villa of the Year: Banyan Tree Ungasan

Indonesia Leading Serviced Apartment and Suite: Ascott Jakarta

Indonesia Resort of the Year: Hotel Vila Ombak

Indonesia Leading Tourism Promotion Board: Lombok Sumbawa Tourism Promotion Board

Indonesia Responsible Tourism Award: The Sultan Hotel Jakarta

Indonesia Leading Amusement Park: Bali Safari & Marine Park

Indonesia Leading Inbound Travel Agent:Panorama Destination

Indonesia Leading Tour Operator: Panorama Tours

Indonesia Leading Cruise Operator: Scoot Fast Cruises

Indonesia Leading Corporate Travel Agent: Panorama Tours

Indonesia Leading Outbound Travel Agent: Smailing Tour and Travel

Indonesia Leading Airport: Minangkabau International Airport, Padang, Sumatera Barat

Indonesia Leading DMC: Destination Asia Indonesia

Indonesia Leading Coach/Bus Company: White Horse Groups

Indonesia Leading Taxi/Limousine Company: White Horse Groups

Indonesia Leading GDS Travel Facilitator Company: Abacus

Indonesia Leading International Airlines: Cathay Pacific Airways

Indonesia Leading Lifestyle Mall: Grand Indonesia Shopping Mall

Indonesia Leading Low Cost Airlines: Citilink

Indonesia Tourism Personality of the year: Bapak Dr. Sapta Nirwandar

Indonesia Tourism Lifetime Achievement Award: Bapak I Gede Ardike

sumber:
indonesiatraveltourismawards.org

Tuesday, 15 November 2011

Indonesia Usulkan 170 Destinasi Geodiversity sebagai Geopark UNESCO


JAKARTA - Pemerintah akan mengajukan 170 destinasi geodiversity baru sebagai jaringan geopark global oleh Badan Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO).

Sesditjen Pengembangan Destinasi Wisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparek) Achyaruddin mengatakan, titiknya tersebar diseluruh Indonesia. Dimana di Pulau Sumatera ada 35 titik, Jawa 71 titik, Bali dan Nusa Tenggara Barat dan Timur 27 titik, Kalimantan 12 titik, Sulawesi 20 titik, Maluku dan Papua lima titik.

Dirinya menjelaskan, usulan 170 destinasi baru itu diperlukan karena Indonesia belum memiliki memiliki satupun kawasan gabungan dari kekayaan geological dan cultural heritage. Secara global ada 66 geopark di 21 negara UNESCO. China merupakan pemilik terbanyak dengan 22 geopark. Sedangkan, tingkat Asia Tenggara baru ada satu, yaitu Pulau Langkawi di Malaysia, katanya pada Sosialiasi Geopark di gedung Kemendikbud.

Dalam prosesnya, dari 170 usulan itu untuk tahap awal pemerintah telah mengajukan Pacitan dan Gunung Batur sebagai geopark pertama di Indonesia. Materi mengenai kedua destinasi tersebut sudah dibuat sejak 2010 dan dikirimkan ke UNESCO namun karena harus ada perbaikan maka perlu persiapan ulang. Usulan lainnya yaitu, Gunung Rinjani dan Danau Toba serta Wayak di Raja Ampat, Papua Barat.

Gunung Batur dan Danau Batur
sumber: balirc.com

Achyaruddin menjelaskan, inisiasi ketiganya akan dilakukan tahun ini dan diharapkan pada pertengahan September 2012 sistemnya penilaian sudah selesai sehingga pada 2013 Unesco dapat melakukan penilaian. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Sukhyar menambahkan, Indonesia memang memiliki 170 geodiversity dan 33 geoheritage. “Konsep tersebut berangkat dari bukti dan keunikan alam. Yang dilakukan pemerintah adalah mencari bukti keunikan dari aspek keilmuan dan pendidikan,” imbuhnya.

Dirinya menjelaskan, variasi geodiversity berupa bentang alam, bentuk lahan, singkapan batuan, kelompk batuan, jenis batuan, tanah, mineral, kristal, hingga fossil. Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Arief Rahman menambahkan, untuk menjadi sebuah geopark memerlukan waktu yang cukup lama.

“Makanya, harus ada pendidikan berkelanjutan. Untuk menjaganya, bisa dimasukan dalam muatan lokal dalam sekolah. Harus punya buku-buku, materi, dan gurunya yang bias membantu pemahaman ini. Dengan demikian manusia menyatu dengan alam,” papar Arief.

Penyelaras Asia Pacific Geopark Network (APGN) Ibrahim Komoo menjelaskan, geopark bertujuan membangun kawasan yang berkelanjutan. Setelah berhasil masuk, masa berlakunya hanya sampai empat tahun. Setelah itu akan ada penilaian ulang apakah aktivitas di titik tersebut sesudah didaftarkan mengarah ke positif dan negative. “Kalau negatif, diberikan waktu dua tahun untuk memperbaiki. Jika tidak ada perkembangan bagus maka status yang diberikan UNESCO akan dicabut,” terangnya. (Neneng Zubaidah/Koran SI/rhs)

sumber: kampus.okezone.com

Pangandaran: Body Rafting di Green Canyon

Tiba di Terminal Cijulang pukul 9 pagi, kami mencoba mencari ojek menuju Dermaga Ciseureuh, pintu masuk Green Canyon. Tukang ojek meminta Rp10.000/orang untuk ongkosnya, kami mencoba menawar Rp5.000. Sedikit ngotot dan tidak diberi oleh tukang ojek, Pak Olog (penyedia jasa body rafting) menelpon saya dan mengatakan akan menjemput kami, yeay! Tak lama datang 3 motor yang menjemput kami menuju Green Canyon.

Perjalanan sekitar 10 menit. Kami menuju sebuah rumah di dekat pintu Green Canyon. Di rumah situ lah kantor Kisunda Adventure yang dikelola Pak Olog (contact person: 085223731415). Kami membayar Rp150.000/orang (harga diskon + harga mahasiswa + harga negosiasi, hehe). Sudah ada empat orang yang sedang berganti pakaian, dan mereka akan menjadi satu rombongan bersama kami. Setibanya di sana, kami mengganti pakaian dan mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa. Kami mengenakan life vest, sandal khusus, deker, dan helm. Untuk barang-barang penting, jangan takut kebasahan karena sudah disediakan tas antiair, jadi kamera juga bisa dibawa. Setelah selesai, kami di-briefing tentang medan yang akan dilalui dan pemanasan sedikit. Kami dipandu oleh 3 orang instruktur.

Sekitar pukul 09.30 kami naik pick-up untuk menuju starting point-nya yang lumayan jauh sekitar 5 km dari pintu masuk Green Canyon ini. Cuaca pagi ini mendung dan habis hujan, jadi bias diprediksi kalau air sungai berwarna coklat. Sekitar 20 menit perjalanan, kami turun di sebuah perkebunan yang dialiri sungai dan di sitilah kami akan memulai perjalanan, yuhu!

Mengencangkan deker dan helm, satu per satu mulai turun ke sungai yang dingin. Cuaca pagi ini masih mendung, jadi menambah seru tantangan ini. Di awal-awal menyusuri sungai masih cukup santai karena aur sungai yang cukup tenang dan belum banyak bebatuan. Sekitar setengah jam mengalir, kami istirahat sejenak dan foto-foto di sebuah goa yang cukup lebar dan dipenuhi kelelawar. Perjalanan masih 3 hingga 4 jam lagi, jadi kami hanya 15 menit di goa ini dan melanjutkan.


Foto-foto di depan goa

Dan etape kedua ini cukup menantang, batu-batu besar dan arus-arus deras mulai sering ditemui. Untuk melewatinya membutuhkan waktu yang lama karena harus satu per satu. Dibutuhkan pula bantuan tali untuk meloloskan kami melewati arus deras. Beruntung pemandu kami sudah berpengalaman, jadi cukup mengetahui medan dan bagian mana yang harus kami lalui.

Batu-batu besar

Beberapa kali kami perlu melewati darat (bantaran sungai) karena batu yang menghalangi sangat besar atau meloncati batu-batu besar. Bahkan ada kalanya kami harus melewati dengan berpegangan tali atau yang paling deg-degan melompat bebas ke arus deras. Sempat beberapa dari kami terbawa arus, jadi pemandu kami harus bekerja ekstra keras untuk membantu kami. Sekitar 2 jam mengikuti kondisi sungai yang bervariasi, kami istirahat di atas batu besar. Pemandu kami menyalakan api dari spiritus untuk memasak air, jadi bisa membuat kopi. Kami juga memakan makanan ringan bawaan kami. Cukup lama kami istirahat, sekitar 40 menit.

Terjun bebas ke atus deras

Kemudian kami melanjutkan dan langsung diawali dengan melompat ke arus deras, waduh. Tapi inilah yang namanya tantangan, meloncat lah kami satu per satu. Lanjut mengikuti arus. Setengah jam perjalanan, terlihatlah hujan abadi dan kami sudah memasuki area Green Canyon. Tapi, rintangan malah yang tersulit karena arus sangat deras dan tidak dimungkinkan untuk melewati sungai, kami diarahkan melewati batu besar yang di beberapa bagian cukup licin. Dibutuhkan kehati-hatian dan kewaspadaan yang tinggi di sini.

Setelah cukup memakan waktu lama, akhirnya kami bertujuh mampu melewatinya dan saatnya foto-foto, yuhu (sayang kamera yang dipakai adalah milik rombongan yang satu, jadi tidak bisa diperlihatkan). Setelah cukup puas, kami kemudian masuk lagi ke sungai. Kemudian ada Batu Payung (karena berbentuk payung) yang bisa untuk melompat. Kami pun melompat dari situ. Lanjut lagi menuju Green Canyon, di sana banyak pengunjung dan perahu-perahu yang masuk dari pintu utama Green Canyon.

Perjalanan menuju pintu masuk Green Canyon

Kami kemudian naik perahu menuju pintu masuk. Petualangan selama 5 jam akhirnya selesai juga. Dan ini adalah pengalaman yang sangaaaaat berharga dan menantang, hehe. Kami kemudian kembali menuju ke kantor utnuk mandi, ganti pakaian, dan makan siang karena paket body rafting sudah include makan siang prasmanan. Inilah liburan yang sesungguhnya dan sangat menantang, silakan dicoba!

Nih contact-nya (sebagai bentuk apresiasi, bukan berbayar)

Friday, 28 October 2011

Pangandaran: Lika-liku Angkutan Pedesaan Pangandaran-Cijulang


"Salah satu hal unik yang saya bawa pulang dari perjalanan di Pangandaran ini adalah angkutan pedesaannya (angdes)"

Setelah menyelesaikan malam di Pangandaran rencana kami kali ini adalah menuju Green Canyon untuk body rafting. Kami bangun cukup pagi, sekitar pukul 6, langsung salat, mandi, dan packing. Kami dijadwalkan harus sudah tiba di Green Canyon pukul 9 pagi dan rencana kami menuju Green Canyon adalah dengan angdes dari Terminal Wisata Pangandaran.

Pintu keluar Pangandaran

Pagi ini gerimis turun dan suasana pantai pun terasa dingin. Kami sarapan dulu bubur ayam di penginapan sebeah, lumayan menghangatkan. Setellah itu langsung menuju terminal dengan jalan kaki, padahal kami tidak tahu berapa jaraknya. Selesai berjalan menuju utara, tepat pukul 07.50 kami tiba di terminal dan langsung kami cari angdes berwarna kuning jurusan Pangandaran - Cijulang. Cijulang adalah terminal yang dekat dengan Green Canyon.

Kamu masuk ke angdes yang sudah bersiap untuk jalan. Di dalam masih kosong, jadi kami adalah penumpang pertama. Bang supir datang dan menyapa. Kami mengobrol sedikit, menanyakan ongkos menuju Cijulang yang kata bang supir Rp10.000. Lumayan ya, tapi cukup menghemat ongkos dibanding harus sewa atau naik ojek. Angdes berjalan tepat pukul 08.00. Tetapi tak jauh, angdes kembali berhenti di dekat pasar. Kata si abang sudah dijadwalkan kapan angdes harus jalan. Angdes bakal ngetem hingga pukul 08.10 di depan pasar ini.

Angdes cukup penuh dan pukul 08.10 kembali berjalan meninggalkan pasar. Pemandangan Perjalanan Pangandaran - Cijulang cukup bervariasi, mulai dari pohon-pohon, sungai, rumah-rumah, hingga lapangan luas. Daaaan tepat pukul 09.00 angdes tiba di Termina Cijulang, juga kata si abang supir emang udah dijadwalkan perjalanan rute ini memakan waktu 1 jam. Akhirnya tiba juga kami di Terminal Cijulang.

(berlanjut ke Pangandaran: Body Rafting di Green Canyon)

--------------------------------------------------------------------------------------------------

Nah pulang kembali menuju Terminal Pangandaran, kami kembali naik angdes dari Terminal Cijulang. Kami naik ojek menuju terminal. Tiba di Terminal Cijulang, ada satu angdes di sana daaaaan ternyata pengemudinya sama dengan yang tadi, hahaha, unik sekali. Lagi-lagi kami menjadi penumpang pertama. Kata si abang ini adalah angdes terakhir menuju Pangandaran, beruntung kami tidak telat.

Tepat pukul 4 sore, angdes melaju menuju Pangandaran. Selama perjalanan, angdes berhenti di beberapa tempat untuk meaikkan penumpang. Si abang juga terus teriak-teriak angdes terakhir agar angdesnya penuh. Hingga di suatu kondisi angdes ini sudah penuh, semua tempat duduk sudah terisi, tetapi ada sekitar 10 anak sekolah yang memberhentikan, pikir saya pasti tidak ditolak sama si abang. Ternyataaaa, mereka naik dan duduk di atas, iya di atas angdes ini, waduh. Angdes jadi sangat penuh dan berjalan cukup lambat.

Perjalanan kembali diteruskan dan lagi-lagi diberhentikan oleh calon penumpang, si abang pun kembali memasukkannya, pokoknya dihimpit-himpit agar semua bisa masuk. Saya yang cukup lelah dan ngantuk jadi cukup waspada dan terbangun karena sumpek. Karena tidak ada kerjaan, saya menghitung total penumpang di angdes ini. Hitung punya hitung toal seluruh penumpang dan supir adalah 29 orang!!!!!! Formasinya gini: 3 orang duduk di depan, 12 orang duduk di angdes, 2 orang jongkok, 3 orang bergelantungan di beakang, dan 9 orang di atas, HEBAT YA!!!

Rute Cijulang (kiri) menuju Pangandaran

Angdes pun tiba di Terminal Pangandaran pukul 6 sore, lumayan alias capek perjalanan selama 2 jam dengan oksigen yang berebutan. Namun, inilah lika-liku angkutan pedesaan Pangandaran! Silakan dicoba :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...