Sunday, 7 October 2012

Indonesia untuk Dunia: Global Geoparks Network


The Global Network of National Geoparks (GGN - Global Geoparks Network) is a voluntary network of Global Geoparks supported by UNESCO. The GGN is a dynamic network where members are committed to work together and exchange ideas of best practise and join in common projects to raise the quality standards of all products and practises of a Global Geopark. 

Batur Global Geopark, Indonesia

Batur Global Geopark is centered around an active volcano located in northeast Bali, between of two round calderas, which are large volcanic craters that formed about 22,000 years ago. The volcano belongs to the Pacific 'Ring of Fire' and forms part of a long chain of similar active volcanoes in Indonesia. The area is rich of elements of macro- and micro-volcanic landforms produced by the volcano across several thousands of years. The volcano of Batur is a typical strato-type volcano built up of alternating layers of pyroclastics and lava flows. The two cataclysmic eruptions in its geological history have produced the amazing caldera-walls, the inside of which is today filled with a deep volcanic lake. The active cone of Batur Volcano has erupted at least 22 times since the 1800s. The island of Bali is a place with many natural and cultural tourist attractions, yet the Batur Volcano stands out for its unique geology and grand scenery. From the cultural side, the Geopark showcases very specific local customs related to the Balinese Hindu religion.

sumber:

Thursday, 23 August 2012

Indonesia untuk Dunia: Megadiversity Country

Conservation International (CI) adalah sebuah organisasi international yang berfokus pada lingkungan hidup. CI bertujuan mempengaruhi jalannya pembangunan global, menunjukkan kepada pemerintah, lembaga-lembaga dan juga perusahaan-perusahaan bahwa penghargaan kepada alam itu sangat penting bagi kesejahteraan manusia dan bagi kesejahteraan semua kehidupan di planet kita.

Dalam melaksanakan misinya, CI menetapkan negara-negara atau area-area yang ada di dunia ini ke dalam berbagai kriteria, beberapa di antaranya adalah 'Megadiversity Countries' dan 'Biodiversity Hotspots'. Di kedua kriteria tersebut, wilayah Indonesia termasuk di dalam daftarnya.

Megadiversity Country: Indonesia

sumber gambar: wikipedia.org

'Megadiversity Countries' merujuk atas negara-negara di dunia yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya. Terdapat 17 negara yang tergolong dalam 'Megadiversity Countries' ketika ditetapkan pada tahun 1988.



Biodiversity Hotspots: Sundaland & Wallacea

Biodiversity Hotspots

'Biodiversity Hotspots' adalah metode untuk mengidentifikasi kawasan di dunia yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Di seluruh dunia terdapat 34 'Biodiversity Hotspots'. Ke-34'Biodiversity Hotspots' menutupi 2,3% daratan di dunia. Wilayah Indonesia terbagi dalam dua'Biodiversity Hotspots', yakni Sundaland (Sumatera, Jawa, dan Kalimantan) dan Wallacea (Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku).

Friday, 27 July 2012

Travel Choice Travelounge Juli 2012

Bulan Juli ini saya diberi kado dari Majalah Travelounge. Tulisan dan beberapa foto saya yang berjudul "10 Hari, Tiga-Empat Pulau Terlampaui" dimuat di majalah khusus Bandara Soekarno-Hatta tersebut. Saya mengunjungi Pulau Sulawesi, Pulau Kalimantan, Pulau Beras Basah, juga Jawa selama sepuluh hari berkelana pada awal tahun 2012. Bersama tiga teman lainnya, kami merasakan bekunya Bromo, melihat mistisnya Toraja, mencicipi kudapan asli Makassar, memacu adrenalin di Bukit Bangkirai, menjadi gosong di Beras Basah, dan menikmati budaya Dayak di Desa Pampang. Selamat membaca!





Catatan #GrandTour (Kalimantan Timur)

Berfoto bersama masyarakat Dayak di Desa Pampang

Perjalanan kami berlanjut ke pulau ketiga, yakni Kalimantan, yeah. Setelah keliling Sulawesi (cerita di sini), di hari ketujuh kami terbang dari Makassar ke Balikpapan untuk melanjutkan tur kami. Selama di Kalimantan kami menikmati hutan Kalimantan di Bukit Bangkirai, wisata religi di Samarinda, wisata budaya di Desa Pampang, dan wisata air di Pulau Beras Basah!

Hari 7: Makassar – Balikpapan – Bontang
Pagi-pagi sekali, kami sudah harus bersiap diri. Pesawat tujuan Makassar - Balikapapan yang kami tumpangi berangkat pukul 6 pagi. Perjalanan Makassar - Balikpapan ditempuh selama satu jam sepuluh menit. Akhirnya kami tiba di pulau ketiga, Kalimantan. Girang sekali kami karena impian berada di pulau terbesar ketiga di dunia tergapai. Tak menyia-nyiakan waktu, kami langsung menaiki mobil sewaan dan bersiap menuju Kota Bontang. Di tengah perjalanan, kami menyempatkan diri mampir ke Samarinda Islamic Center yang sungguh megah. Letaknya di tepian Sungai Mahakam membuat masjid ini semakin memesona. Kemudian kami mampir ke tempat kedua untuk meningkatkan adrenalin, takni ke Jembatan Tajuk (Canopy Bridge) di Bukit Bangkirai. Inilah satu-satunya jembatan tajuk di Indonesia. Jembatan ini menghubungkan satu pohon dengan pohon lainnya. Tinggi jembatan mencapai 20 meter. Bayangkan apa yang Anda rasakan di atas ketinggian 20 meter dengan berpijak di atas papan kayu. Pasti adrenalin akan berdebar kencang. Setelah puas mendebarkan diri, kami melanjutkan perjalanan ke Bontang. Waktu tempuh Balikpapan - Bontang yang wajarnya ditempuh 5 jam, kami tempuh selama 9 jam.

Hari 8: Pulau Beras Basah, Bontang
Hari kedua di Kalimantan, kami akan mampir sejenak ke pulau keempat, yakni Pulau Beras Basah. Pulau Beras Basah ini termasuk wilayah Kota Bontang dengan dikelilingi Selat Makassar. Perjalanan kami ke Pulau Beras Basah menggunakan ketinting (perahu kecil) selama 45 menit. Harga sewa ketinting Rp450.000 dengan kapasitas bisa mencapai 20 orang. Tiba di Beras Basah, matahari seakan membela kami juga menghukum kami. Langitnya yang cerah membuat pulau dan pantai menjadi kombinasi yang sempurna. Tapi karena kami terletak di atas garis Khatulistiwa, panasnya sinar matahari membuat kulit kami gosong seketika. Snorkeling sambil berenang-renang kecil mengitari pulau cukup bagi kami yang rindu akan deburan ombak. Sebenarnya pulau ini sangat potensial untuk lebih dikembangkan sebagai destinasi wisata. Namun, nampaknya Pemkot Bontang sudah terlalu sibuk dengan perusahaan-perusahaan besar yang ada di kota ini. Jadi, fasilitas di Beras Basah hanya ala kadarnya saja. Selesai menyantap makan siang yang kami bawa, kami kembali ke kota dan tertidur pulas kelelahan.

Hari 9: Bontang – Samarinda
Perjalanan kami sudah mendekati akhir. Di hari kesembilan, kami menuju Samarinda menggunakan bus. Rencana kami di Samarinda adalah menikmati wisata budaya Dayak. Kami mengunjungi salah satu desa Suku Dayak, yakni Desa Budaya Pampang. Di desa ini setiap hari Minggu pukul 1 siang diadakan pertunjukkan tari-tarian adat khas Dayak. Beruntung kami tiba di Samarinda pada hari Minggu, kesempatan ini tidak kami lewatkan. Di Desa Pampang ini seluruh elemen warga Dayak, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa menunjukkan tarian Dayak diiringi alat musik khas Dayak. Pertunjukkan berlangsung selama satu jam. Dengan biaya masuk Rp15.000 rupiah, Anda dapat melihat langsung kebudayaan Dayak, menari bersama, dan memperoleh cenderamata khas Desa Pampang. Selain itu, Anda juga dapat berfoto bersama masyarakat Dayak dengan biaya tambahan Rp25.000 tiap foto.

Hari 10: Samarinda – Balikpapan – Jakarta
Perjalanan kami sudah berakhir. Sebelum ke Bandara Sepinggan Balikpapan, kami singgah ke toko oleh-oleh di Samarinda untuk membeli amplang khas Samarinda. Mobil travel sudah siap mengantar kami ke kota terakhir, Balikpapan. Momen-momen dinginnya Bromo, mistisnya Toraja, panasnya Bontang, dan uniknya Suku Dayak akan menjadi pengalaman berharga yang tidak akan kami lupakan. Pukul 6.15 malam maskapai low-cost carrier nasional mengantarkan kami kembali ke Jakarta. Perjalanan kami sudah selesai, namun rasa cinta kami akan selalu ada dan semakin tebal untuk Indonesia tercinta.

Rute perjalanan selama di Kalimantan Timur

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...