Sabtu, 09 April 2011

Lampung: Pantai Pasir Putih dan Pulau Condong

Malam sebelum tidur, saya menyempatkan ke luar dari kamar dan mengobrol dengan satpam hotel. Saya mengajak ngobrol Pak Satpam. Saya mencari tahu alternatif transportasi untuk menuju Pantai Pasir Putih yang letaknya sedikit di luar Kota Bandar Lampung. Pak Satpam menyarankan untuk menggunakan jasa ojek menuju Pantai Pasir Putih. Ketika saya menanyakan kisaran biayanya, Pak Satpam menjawab sekitar Rp40.000. Uh waw, saya nggak mau lagi mengeluarkan biaya sebesar itu. Ketika apa yang saya cari belum ketemu, Pak Satpam memberikan nomor ponselnya dan juga nomor temannya. Saya mencatat di hape, mengucap terima kasih, dan kembali ke kamar.

Paginya saya bangun dan segera mandi karena rencana saya adalah saya harus sudah meninggalkan hotel untuk jalan-jalan sebelum pukul 7.30. Selesai mandi, saya mendapat sarapan yang cukup eksklusif di hotel ini, prasmanan dengan menu yang cocok dengan selera saya. Selesai makan, saya mengambil tas kecil saya. Pertama-tama saya akan membeli dahulu tiket Damri untuk kembali ke Jakarta nanti malam. Letak loket penjualannya ada di Stasiun Tanjung Karang, di ujung Jalan Radin Inten ini. Karena letaknya tak begitu jauh, saya memutuskan untuk berjalan kaki.

Stasiun Tanjung Karang, Bandar Lampung

Tak sampai dua puluh menit saya sudah tiba di Stasiun Tanjung Karang. Saya bertanya kepada Pak Polisi yang ada di dekat situ di mana lokasi penjualan tiket Damri. Ia menunjukkan posisinya persis di sisi stasiun. Saya menuju ke sana. Di dalam kantor penjualan tiket Damri sudah ada lima orang yang mengantre. Tiba giliran saya, petugas menjelaskan panjang lebar. Jadi ada tiga sesi keberangkatan menuju Jakarta, jam 8 malam, 9 malam, dan 10 malam. Nah di tiap sesi ada dua jenis bus, yang ada toilet dan ruang khusus merokoknya dengan jumlah seat sebanyak 24 orang seharga Rp149.000 (per juni 2010) dan yang satu lagi tanpa toilet dan tanpa ruangan khusus dengan jumlah seat 48 seharga Rp109.000 (per Juni 2010). Saya memilih tiket bus dengan harga yang paling murah dan berangkat pukul 9 malam karena yang pukul 8 malam sudah full.

Selanjutnya tujuan saya adalah Pantai Pasir Putih. Sekilas saya membaca catatan perjalanan di blog acuan, transportasi Damri dalam kota bisa digunakan. Saya penasaran untuk mencobanya. Apalagi pool Damri berada di depan stasiun. Saya masuk ke dalam salah satu bus yang sedang mangkal, kebetulan yang saya tumpangi adalah bus Damri non-AC tujuan Tanjung Karang-Teluk Betung. Ada dua bus yang melayani rute yang sama, yang satu ber-AC dan yang satu lagi non-AC. Yang ber-AC bertarif Rp2.500 dan non-AC bertarif Rp1.500 (per Juni 2010). Setelah bus cukup terisi penuh, Pak Sopir menjalankan busnya menuju selatan, menyusuri jalan Radin Inten ini dan jalan-jalan lain yang tidak saya ingat. Hingga akhirnya bus ini tiba di pemberhentian terakhir, Terminal Teluk Betung.

Saya bertanya kepada kondektur untuk angkutan menuju Tarahan, Pak Kondektur menunjukkan angkot berwarna jingga itu. Langsung saya naik ke salah satu angkot yang sudah ada penumpangnya. Sekitar tiga puluh menit berada di dalam angkutan itu, akhirnya saya tiba di sebuah persimpangan menuju Tarahan, sebenarnya saya turun di situ untuk berganti angkot tetapi karena angkot yang saya naiki tidak berhenti di situ dan terus melaju ke arah pantai, saya mengikuti saja. Tak berapa lama penumpang terakhir selain saya turun. Terus supir angkot menanyakan kepada saya mau turun di mana, saya menjawab Pasir Putih. Supir menawarkan biaya Rp25.000 untuk diantarkan sampai sana, jelas saya tolak. Akhirnya saya turun saja di pinggir jalan dengan membayar Rp4.000 dan bertanya kepada supir cara lain untuk menuju Pasir Putih, dia menjawab naik angkot biru. Kemudian saya turun dan berharap segera menemukan angkot biru.


Pantai Pasir Putih Lampung

Sekitar lima belas menit menunggu, angkot biru akhirnya tiba, saya segera masuk ke dalam. Saya hanya satu-satunya orang yang ada di sana selain supir tentunya. Tak jauh dari saya naik angkot itu, papan nama bertuliskan Pantai Pasir Putih sudah terlihat. Saya memberhentikan angkot dan membayar Rp3.000. Kemudian menyeberang dan akhirnya tiba di tempat tujuan saya hanya dengan biaya Rp8.500 jauh lebih murah daripada biaya ojek yang ditawarkan Pak Satpam hotel.

Aktivitas nelayan di perairan Pulau Condong

Masuk ke kawasan Pantai Pasir Putih saya harus membayar Rp6.000 padahal nominal yang tertera di tiket hanya Rp4.000. Huh sungguh tak profesional. Tak ambil pusing saya masuk ke dalam. Suasana pantai sangat sepi dan ada kabut sangat tipis di pagi yang cukup dingin ini. Terlihat di kejauhan aktivitas di Pelabuhan Bandar Lampung dan juga pembangkit listrik Tarahan. Tiba-tiba seorang bapak mendatangi saya dan menawarkan untuk menyewa perahunya sebesar Rp150.000 agar bisa mencapai tiga pulau di seberang sana. Harga yang di luar jangkauan saya. Awalnya saya mencoba untuk tidak tertarik, tetapi Bapak itu terus membuntuti saya. Dia menawarkan lagi biaya sebesar Rp120.000. Saya menolak, saya mencoba menawar dengan biaya Rp80.000. bapak itu sedikit dan mengiyakan tawaran saya. Jadilah saya menyeberang ke Pulau Condong (pulau yang terdekat) dengan perahu milik Bapak.

Saya sudah mempersiapkan membawa sendal dan plastik, jadi saya mengganti sepatu saya dengan sendal dan memasukkan benda-benda yang tidak boleh terkena air ke dalam plastik. Perahu mulai melaju ke tengah lautan. Di samping kiri dan kanan terlihat beberapa perahu lain yang nampaknya sedang digunakan pemiliknya untuk mencari ikan. Dari kejauhan tampak kesibukan di Teluk Lampung. Menoleh ke belakang terlihat jejeran bukit atau mungkin salah satunya adalah Gunung Rajabasa. Perahu bermotor ini terus melaju menyisiri sisi kanan dari Pulau Condong. Saya mencoba melongok ke arah air dan terlihat dasar laut yang jernih dengan ditumbuhi terumbu karang dan ikan-ikan yang ada di sekelilingnya. Memang kurang jelas terlihat, tapi airnya sangat jernih dan bersih. Mungkin bagi Anda yang hobi snorkeling bisa mencoba di sini nih, perairannya pun cukup tenang.

Pulau Condong

Kejernihan air di sekeliling Pulau Condong

Di kawasan ini terdapat tiga buah pulau, yang saya tahu namanya hanya Pulau Condong. Asumsi saya pulau ini dinamakan Pulau Condong karena bentuknya seperti setengah bola yang mencul ke atas permukaan laut agak condong ke arah utara. Dua pulau lainnya berada tidak jauh dari Pulau Condong dan bentuk dua pulau tersebut tak sama seperti Pulau Condong. Pak nelayan (sebut saja begitu) menepikan perahunya ke Pulau Condong ini. Saya turun dari perahu dan membayar terlebih dahulu tiket masuk sebesar Rp3.000 (per Juni 2010). Langsung saya eksplor pulau itu seorang diri. Pertama saya ke arah batu bolong yang tadi saya lihat dari atas perahu. Kemudian saya ke sisi yang lainnya. Ternyata ada sepasang perempuan yang sedang bermain air di sana. Tak terlalu memperhatikan mereka, saya terus mengeksplor saja pulau mungil ini.

Pulau Condong

Batu Bolong di Pulau Condong

Pasir pantai di Pulau Condong ini putih bersih banyak kerang berserakan di mana-mana. Di tengah pulau dapat ditemui rimbunan semak dan pepohonan. Dan saat itu di antara semak-semak saya melihat seekor monyet yang entah apa yang dia lakukan. Dari info yang saya dapat dari petugas di Pulau Condong ada sekitar 700-an kera di pulau ini. Mereka hidup di bukit pulau. Setelah asyik menikmati ketenangan, pemandangan, debur ombak, foto di sana sini, saya memutuskan kembali ke pantai ntuk segera balik ke hotel karena jam sudah mennunjukkan pukul 11 siang.

Sampai di daratan, saya mengganti pakaian, membayar biaya sewa perahu, dan kembali menunggu angkot biru. Sebuah pengalaman yang menyenangkan selama bermain di Pantai Pasir Putih Lampung ini. Suasananya tenang dan indah, masih dominan kealamiannya. Tak lama menunggu, akhirnya saya mendapatkan angkot biru dan segera balik ke hotel.

Pantai Pulau Condong

Dermaga di Pulau Condong

9 komentar:

  1. mas, akhir bulan ini saya mau ke pantai pasir putih juga, saya dari jakarta mau naek bis. pengen jalan sendirian aja. bisa kasi tips ga biar ga ribet ke sananya hehehe.

    BalasHapus
  2. pilihan yang teoat emang naik bis, tips-nya mungkin untuk transportasi ke sana bisa langsung dengan bis damri dari Gambir

    kemudian transpor dalam kota Bandar Lampung sudah lengkap

    untuk akomodasi cukup banyak pilihan di Jalan Radin Inten

    untuk di Pantai Pasir Putih-nya apabila ingin ke Pulau Condong lebih baik bareng-bareng, jadi bisa sharing ongkos dan coba bawa alat snorkeling karena perairan di sana cukup jernih, tenang, dan warna-warni

    BalasHapus
  3. Informasi yang menarik kak, berarti asumsi saya selama ini salah. Saya kesana saya kira Tarahan adalah nama Pulau nya ternyata bukan. hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, info dari penyewa perahu bahwa pulau itu disebut Pulau Condong, tapi di sekitar Pulau Condong juga ada beberapa pulau lainnya tapi lupa namanya, hehe

      Hapus
  4. Terima kasih atas informasinya, kalau ada waktu silahkan berkunjung ke website saya News Of Tourism, Thanks. . .

    BalasHapus
  5. nice info..insya Allah bsok sya ke pantai ini

    BalasHapus
  6. hahaha ga nyangka bgt ketemu gandung diblog

    masih inget kak Itha ? hehehe yang di Palembang tempo ari ke pulau kemaro

    Awalnya iseng mau googling , kakak mau ke Lampung lagi tapi explore Lampung selatannya belum ada rencana mau ke Teluk Kiluan

    Kalau dari Bali untuk naek plane kurang enak deh , pengen dari Jakarta naek Damri gitu ndu ... kemaren udah fix dapat DAMRI brangkat jam 9 malam 105.000

    gandu ada referensi ga hotel buat nginep yang badget 150 ribuan ke bawah gpp deh ... cuman buat tidur ...

    infonya ke kak itha ya ndu

    ym : rosita_ayu@yahoo.com

    Salut sama gandu ..bravo trus jalan2nya ...

    BalasHapus
  7. maaf kalau dr stasiun tanjung karang mngenai transport ny susah kagak gan ?

    BalasHapus
  8. info dung brapa buget untuk nginep smalem di pasir putih domisili jakarte(yg murah aje)
    makasih
    inisa79@rocketmail.com

    BalasHapus